- PENDAHULUAN
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita. Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik. Dalam makalah ini kita akan membahas mengenai sumber daya manusia yang juga mempengaruhi masalah pendidikan di Negara ini.
- ABSTRAKSI
Akhir-akhir ini, permasalahan terkait dengan kualitas bangsa Indonesia masih mendapatkan kritikan yang tajam. Demikian ini terkait dengan masalah kualitas sumber daya Manusia Indonesia. Kualitas SDM kita tentu terkait dengan mutunya pendidikan di Indonesia. Sebab, pendidikan sebagai sentral utama peningkatan mutu SDM telah diterima dan diwacanakan secara terus menerus oleh akademisi, dan praktisi pendidikan, pendekar dunia usaha, termasuk birokrat Negara.
Kenyataannya sekarang indek pembangunan Manusia yang di capai Indonesia di bawah Negara-negara tetangga, seperti : Malaysia, Filipina, dan Thailand. Peringkat Indonesia sekarang di baying-bayangi Vietnam, bahkan pada than 2002 dan 2003 posisi Indonesia di bawah Negara itu. Sejak tahun 1975, pencapaian Indonesia berada dibawah rata-rata Indek Pembangunan Manusia di dunia maupun di antara Negara Asia Pasifik. Indek Pembangunan Manusia Indonesia saat ini tertinggal pada peringkat 111 dari 177 negara. Kontras dengan keberhasilan gemilang sejumlah remaja Indonesia dalam olimpiade sains, kemampuan pelajar Indonesia dalam bidang matematika dan sains tergolong rendah. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) berdasarkan hasil studi trends in international Mathematic and science study (TIMSS) 2004 menunjukan bahwaunutk bidang matematika, siswa sekolah menengah pertama (SMP) kelas II di Indonesia berada pada peringkat ke 34 dari 45 negara. Sementara untuk bidang sains, siswa Indonesia pada tingkat yang sama berada pada urutan ke 36 dari 45 negara.
Hal demikian patut untuk kia pikirkan bahwa sebagai bangsa yang besar Indonesia ternyata belum siap sepenuhnya menghadapi persaingan global, termasuk mempersiapkan kualitas SDM Indonesia untuk bersaing dalam konstalasi global ini. Masih lemahnya kualitas SDM kita adalah juga di picu oleh angka partisipasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tergolog tidak merata yang disebabkan karena factor kemiskinan yang melanda bangsa kita.
Barangkali, di masa mendatang elemen-elemen masyarakat dan pemerintah harus memiliki komitmen nasional dan meletakkan pendidikan debagai agenda utama demi perbaikan kualitas SDM Indonesia. Kebijakan pemerintah terkait pendidikan tanpa didukung masyarakat secara luas tentu tidak akan berjalan dengan baik. Begitu juga sebaliknya, kebijakan yang diambil pemerintah harus mengacu pada kebutuhan riil masyarakat luas, objektif, dan berwawasan futuristic, serta tidak sekedar apologis dan tanpa komitmen yang nyata.1
- KERANGKA TEORITIK
- Problematika Pendidikan Di Indonesia
Faktor Internal
- Relasi Kekuasaan dan Orientasi Pendidikan
Dalam aspek politik pendidikan, pendidikan di orientasikan sebagai alat untuk kepentingan tertentu, seperti kepentingan ideology tertentu, ataupun kepentingan politik dalam rangka mempertahankan status quo. Misalnya, pada periode 1959-1966, ketika bangsa Indonesia mengalami perkembangan dan perubahan situasi politik, social dan politik.
Tujuan pendidikan dirumuskan sebagai berikut :
Sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 145 tahun 1965 :
Tujuan nasional pendidikan Indonesia sesuai dengan manipol Usdek. Manusia sosialis Indonesia adalah cita-cita utama setiap usaha pendidikan di Indonesia, kepentingan kehidupan pribadi agar dinomor duakan.”Tujuan pendidikan nasionalyang diselenggarakan oleh pihak pemerintah maupun oleh pihak swasta, dari pendidikan pra sekolah sampai pendidikan tinggi supaya melahirkan warga Negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertanggungjawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur, baik spiritual maupunmaterial, dan yang berjiwa pancasila, yaitu a). Ketuhanan Yang Maha Esa, b). Perikemanusiaan yang adil dan beradab, c). kebangsaan, d). kerakyatan, dan e). keadilan seperti yang dijelaskan dalam manipol Usdek.”
Dari tujuan tersebut tampak sekali adanya kepentingan ideology tertentu yang mencita-citakan terbentuknya manusia sosialis Indonesia.2
- Masalah Kurikulum
Kurikulum merupakan aspek pendidikan yang prinsipil, sebagai turuna dari tujuan, cita-cita, atau orientasi pendidikan nasional. Akan tetapi, seringkali tentang kurikulum pendidikan nasional dianggap tidak konsisten dalam menerjemahkan tujuan idela pendidikan. Setiap adanya pergantian menteri pendidikan, kebijakan berkaitan dengan kurikulumpun juga ikut diganti, sesuai dengan harapan menteri yang baru.
- Profesionalitas dan Kualitas SDM
Kemerosotan mutu pendidikan di Indonesia, seperti di tunjukan dalam berbagai survai internasional, misalnya TIMSS dan indek pembangunan manusia, tidak lepas dari rendahnya mutu guru. Alasannya, guru mempunyai peran amat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain persoalan yang telah dijelaskan diatas, persoalan profesionalitas tentu sangat urgens. Mohamad Surya mengaku, dari 1,6 juta anggota PGRI di seluruh tanah air, sekitar 50 persen belum memenuhi kualifikasi mengajar yang memadai. Kualifikasi pendidikan yang rendah itu sedikit banyak berpengaruh pada wawasan dan intelektualitas.
- Biaya Pendidikan
Faktor biaya pendidikan adalah penting, dan menjadi persoalan tersendiri yang seolah-olah menjadi kabur mengenai siapa yang bertanggungjawab atas persoalan ini. Mungkin sekarang kalau kita menagih komitmen dan janji pemerintah, pasti akan medapat jawaban yang kurang memuaskan.
Faktor Eksternal
- Fenomena Globalisasi
Setidaknya, sekarang globalisasi sudah menjadi suatu kehidupan baru yang perlu dihadapi dengan sadar dan perhitungan yang matang. Dalam perspektif historis, keadaan Negara-bangsa Indonesia pun tidak bisa lepas dari kontelasi global/internasional. Bahkan, dapat dikatakan, sejarah Indonesia merupakan perpanjangan tangan dari pertarungan kepentingan sosial, politik, ekonomi, dan ideology yang sedang bermain di dunia internasional.
Deengan demikian, realitas global saat ini menuntut masyarakat berpikir secara komprehensif atau menyeluruh, berparadigma global, namun tetap berkesadaran kritis, yakni kesadaran yang mampu menguraiakn secara kritis keterkaitan persoalan yang satu dengan yang lain pada seluruh aspek kehidupan manusia.
- Fenomena Multukultral
Fenomena multicultural telah menjadi bahan wacana bahan pokok kajian para akademisi maupun praktisi di setiap bidang kehidupan manusia. Terutama dalam konteks dewasa ini kita berada dalam perubahan masyarakat termasuk perubahan ketatanegaraan serta perubahan-perubahan social lainnya di tengah gelombang perubahan dunia yang sangat besar. Salah satu yang menonjol untuk dicermati ialah bagaimana membangun masyarakat Indonesia yang multicultural. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan dengan sendirinya masuk dalam wilayah multikulturalisme, dan ini tentu merupakan sebuah tantangan. Dengan demikian, pendidikan multicultural merupakan suatu keharusan dalam membangun masyarakat Indonesia yang baru.
- Kemiskinan
Dalam perspektif kritis, pendidikan terkait era dengan masalah – masalah social, termasuk kemiskinan. Pada dasarnya, kemiskinan bukanlah “takdir” dan “pilihan” seseorang, namun karena ada proses yang menyebabkan mereka menjadi miskin atau adanya “pemiskinan”. Pendapat lain mengungkapkan bahwa kemiskinan bukanlah masalah pribadi, tetapi masalah kelembagaan. Masalah struktur yang melingkupi masyarakat miskin antara lain ketidak adilan penguasaan alat reproduksi terutama tanah, kualitas SDM, supsidi, akses memperoleh kredit dan ketidak adilan pasar.
- Cara mengembangkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas
- Masyarakat Belajar
Dua orang ahli di dalam disiplin yang di Amerika disebut dengan nama “ekonomi pendidikan”, Fredrick Harbison dan Charles Myers, telah menguraikan “strategi-strategi bagi pengembangan sumber-sumber manusiawi” di dalam buku mereka , Education, Manpower and Economic Growth (1964). Ini berhubungan dengan penambahan pengetahuan dan ketrampilan, yang pada umumnya berlangsung di suatu masyarakat tertentu. Ada 3 macam perkembangan yang telah di identifikasikan :
- Persekolahan, formal, yang pada umumnya menonjolkan pendidikan umum dan liberal
- Pendidikan orang dewasa, baik di dalam maupun di luar waktu kerja.
- “Penataran diri” dalam bentuk kursus-kursus korespondensi dan lain-lainnya yang sejenis, ditambah dengan penerangan mengenai peningkatan kesehatan dan gizi.3
- Manajemen pendidikan
Soetjipto dan Raflis Kosasih (1994:113:118) mengemukakan berbagai tinjauan menejemen pendidikan sebagai berikut:
- Manajemen pendidikan mempunyai pendekatan kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan. Diperlukan kerjasama diantara personil sekolah seperti guru, pegawai tata usaha, kepala sekolah, persatuan orang tua murid, dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang baik.
- Manajemen pendidikan mengandung pendekatan proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses manajemen pendidikan ini terdiri dari: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, penilaian dalam sistem pendidikan.
- Manajemen pendidikan menggunakan suatu pendekatan sistem untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendekatan sistem terdiri dari raw input, process dan output. Komponen raw input yang terdiri dari: kapasitas dasar (IQ), bakat khusus, motivasi, minat, kematangan / kesiapan, dalam sikap/kebiasaan.
- Manajemen pendidikan menggunakan pendekatan proses mengambil keputusan. Untuk melakukan kerjasama dan memimpin suatu kegiatan dalam sekelompok orang memerlukan untuk memecahkan masalah. Pengambilan keputusan merupakan pilihan alternative yang terbaik yang telah ditetapkan.
- Manajemen pendidikan menggunakan pendekatan komunikasi. Proses komunikasi adalah penting untuk menyampaikan pesan dari guru kepada peserta didik. Komunikasi dalam berbagai komponen pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.4 Disamping pendekatan diatas ada pendekatan lain dalam manajemen pendidikan adalah sebagai berikut:
- Pendekatan Manajemen Klasik
Prinsip-prinsip manajemen klasik yang dikemukakan oleh Fayol, (dalam stoner, 1995 : 45) antara lain sebagai berikut :
- Pembagian kerja
- Otoritas
- Disiplin
- Kesatuan perintah
- Kesatuan arah
- Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi
- Pemberian upah
- Inisiatif
- Pendekatan Perilaku Manusia
Menurut Fallet dan Barnotd dalam stoner (1995:46) mengemukakan antara lain :
- Kepemimpinan tidak seharusnya datang dari kekuatan otoritas formal, tetapi keahlian dan pengetahuan manejer yang lebih tinggi
- Organisasi dapat bekerja secara efisien bila kebutuhan perorangan diperlukan
- Pendekatan Sistem
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendekatan sistem antara lain sebagai berikut :
- Sub-Sistem, berarti bagian-bagian yang membentuk keseluruhan suatu sistem yang disebut dengan sub-sistem dari kesatuan yang lebih besar.
- Sinergi, berarti keseluruhan itu lebih besar daripada hasil penjumlahan bagian-bagiannya.
- Sistem terdiri dari : sistem terbuka dan sistem tertutup, sistem terbuka bila organisasi berhubungan dengan lingkungan, sistem tertutup bila organisasi tidak berhubungan dengan lingkungan.
- Batas sistem, setiap sistem mempunyai batas yang memisahkannya dari lingkungannya. Dalam sistem tertutup, batas sistem ini kaku. Dalam sistem terbuka batas sistem lebih luwes
- Arus, suatu sistem mempunyai arus informasi, bahan dan energi (termasuk manusia)
- Pendekatan Kontijensi
Para manager bertugas untuk menentukan metode dan teknik yang tepat pada waktu dan situasi terpadu untuk mencapai tujuan organisasiyang baik. Para manajer pula mendorong para karyawan untuk meningkatkan produktifitas organisasi. Pendekatan ini berusaha memulihkan faktor-faktor yang menentukan tugas atau masalah tertentu, menjelaskan hubungan fungsional antara faktor-faktor yang saling berhubungan.
- Pendekatan Persepektif Terpadu
Engkoswara, (1988:31) mengemukakan tentang pendekatan persepektif terpadu disebut juga dengan pendekatan integrasi. Pendekatan ini berdasarkan kepada norma dan keadaan yang berlaku, menelaah ke masa silam dan berorientasi ke masa depan secara cermat dan terpadu dalam berbagai dimensi seperti : pemerintah, swasta, pengusaha, tenaga kerja, pendidik, ilmuwan, ulama, dan berbagai sektor pembangunan.5
- ANALISIS
Dari fenomena di atas kita bisa mengembangkan pendidikan yang ada di Indonesia dengan dukungan dari tenaga pengajar, pemerintah, siswa, dan wali dari siswa, karena pendidikan merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat. Setiap manusia memerlukan pendididkan karena dengan pendidikan manusia menjadi tidak terbelakang. Begitu juga terhadap suatu bangsa, suatu bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan dunia pendidikan. Karena pendidikanlah yang dapat membuat Negara menjadi maju tidak hanya berkembang. Indonesia harus mau belajar dari bangsa lain. Seperti halnya sebagian Negara di Afrika dijajah karena kurangnya sumber daya manusia terdidik, sebaliknya lihatlah Negara Jepang dimana sumber daya alamnya sangat kurang sedangkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi sehingga Negara jepang menjadi Negara yang disegani oleh Negara-negara tetangga atau bahkan di dunia. Indonesia sudah memiliki modal besar terhadap kekayaan alam yang dimiliki tetapi kurangnya pengetahuan sehingga bangsa Indonesia baru memanfaatkan sedikit kekayaan alam yang dimiliki. Hal tersebut terjadi karena kurangnya sumber daya manusia terdidik bahkan tidak sedikit hal tersebut dimanfaatkan oleh Negara-negara yang maju untuk menggali potensi kekayaan alam di Indonesia. Seharusnya hal tersebut harus menjadi perhatian yang sangat besar bagi pemerintah agar mementingkan segmen pendidikan bangsa sehingga dapat menggali kualitas sumber daya manusia yang masih belum tergali atau mengayomi bibit unggul yang sudah dimiliki agar tidak juga dimanfaatkan oleh Negara lain atau dalam hal ini dibiayai untuk kemajuaan Negara lain tersebut.
- PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam hal penulisan maupun isi makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran Kami harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya yang lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita.
DAFTAR PUSTAKA
Musthofa. Pendidikan Tranformatif. Yogyakarta : Teras. 2010.
Husen, Torsten. Masyarakat Belaja. Jakarta : Rajawali Pers. 1988.
Sufyarma. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung : Alfabeta. 2003.
DAKWAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Manajemen Dakwah
Dosen Pengampu : Siti Prihatiningtyas, M.Pd.
Disusun Oleh :
Alfi Masroatul I. (101211046)
Fatchurohman T. (101211054)
Nur Cahya M. (101211071)
Salam Qodim (101211078)
Luluk Inayati (101211063)
Wahyu Joko S. (101211086)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
1 Musthofa, Pendidikan Tranformatif, Yogyakarta : Teras, 2010, Hal. 8-10.
2 Musthofa, Ibid, Hal. 22.
3 Torsten Husen, Masyarakat Belajar, Jakarta : Rajawali Pers, 1988, Hal : 236.
4 Sufyarma, Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, Bandung : Alfabeta, 2003, Hal. 196-197
5 Sufyarma, Ibid, Hal. 197-199.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar